Kamis, 20 Juni 2013

Sastra Bandingan: Sinopsis Epos Gilgamesh dan Shahnameh


 Assalamualaikum :)
Kali ini saya memposting lagi suatu tambahan wawasan pengetahuan mengenai dua buah epos yang pastinya jarang kita dengar selama ini, yaitu Gilgamesh dan Shahnameh. Kedua epos ini adalah cerita terpisah dan tidak punya hubungan sama sekali, tapi seperti hubungan erat karena adanya beberapa kemiripan, baik tema maupun cerita di dalamnya dan terkenal dimasing-masing negara asal maupun zamannya.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang sedang mencari referensi khususnya untuk tugas Sastra Bandingan mengenai kedua epos ini ^^

1)      Sinopsis Gilgamesh:
Epos Gilgamesh adalah sebuah puisi epos dari Babilonia dan merupakan salah satu di antara karya sastra paling awal yang dikenal. Sebagai rangkaian legenda dan puisi Sumeria tentang raja dan pahlawan mistis Gilgamesh, yang dianggap sebagai penguasa pada millennium ketiga SM, dikumpulkan hingga menjadi sebuah puisi Akkadia yang panjang di kemudian hari, dengan versi terlengkap yang masih ada sekarang dan dilestarikan dalam lempengan-lempengan tanah liat dalam koleksi perpustakaan raja Asyurbanipal dari Asyur pada abad ke-7 SM.
Salah sebuah cerita yang termasuk dalam epos ini berkaitan dengan air bah. Inti kisahnya berkisar pada hubungan antara Gilgamesh, seorang raja yang terpecah perhatiannya dan patah semangat oleh pemerintahannya, dan seorang sahabat, Enkidu, yang agak liar dan yang berusaha melakukan suatu upaya yang berbahaya bersama Gilgamesh. Banyak dari epos ini terpusat pada perasaan kehilangan Gilgamesh setelah kematian Enkidu, dan yang seringkali disebut oleh para sejarahwan sebagai salah satu karya sastra pertama yang sangat menekankan keabadian. Epos ini dibaca luas dalam bentuk terjemahannya, dan pahlawannya, Gilgamesh, telah menjadi lambang budaya populer.
Diceritakan bahwa Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah Gilgamesh. Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para leluhurnya untuk mengupayakan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah perjalanan yang menentang bahaya dan penuh dengan kesulitan. Ia diperintahkan supaya melakukan sebuah perjalan dimana ia harus melewati "Gunung Mashu dan air kematian" dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash. Namun Gilgamesh tetap dengan gagah berani melawan semua bahaya selama perjalanan dan akhirnya berhasil mencapai Ut-Napishtim.
Naskah ini dipotong atau selesai pada titik di mana terjadi pertemuan antara Gilgamesh dan Ut-Napishtim, dan ketika akhirnya menjadi jelas, Ut-Napishtim bekata kepada Gilgamesh bahwa, "para tuhan hanya menyimpan rahasia kematian dan kehidupam untuk diri mereka sendiri" (yang mereka tidak akan memberikannya kepada manusia). Atas jawaban ini Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian; dan Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya. Banjir tersebut juga diceritakan dalam kisah "dua belas meja (twelve tables)" yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh.
Ut-Napishtim memulainya dengan mengatakan bahwa kisah yang akan diceritakan kepada Gilgameshh adalah merupakan "sesuatu yang rahasia, sebuah rahasia dari tuhan". Ia berkata bahwa ia dari kota Shuruppak, kota tertua diantara kota-kota di daratan Akkad. Berdasarkan ceritanya, tuhan "Ea" telah menyerukan kepadanya melalui tembok gubuknya dan mengumumkan bahwa tuhan-tuhan telah memutuskan untuk menghancurkan semua benih kehidupan dengan perantaraan sebuah banjir; namun alasan tentang keputusan mereka tidaklah diterangkan dalam cerita banjir bangsa Babylonia sebagaimana telah diterangkan dalam kisah banjir bangsa Sumeria. Ut-Napishtim berkata bahwa Ea telah menyuruhnya untuk membuat sebuah perahu dimana ia harus membawa serta dan membawa "benih-benih dari semua makhluk hidup". Ea memberitahukan kepadanya tentang ukuran dan bentuk dari kapal tersebut, berdasarkan hal ini, lebar, panjang dan ketinggian dari kapal sama satu sama dengan yang lain. Badai besar menjungkirbalikan semuanya dalam waktu enam hari dan enam malam. Pada hari yang ke tujuh, badai mulai reda. Ut-Napishtim melihat bahwa diluar kapal, "telah berubah menjadi Lumpur yang lengket”, dan sang kapal pun berhenti di gunung Nisir.
Menurut catatan bangsa Sumeria dan Babylonia, Xisuthros atau Khasisatra diselamatkan dari banjir oleh sebuah kapal dengan panjang 925 meter, bersama dengan keluarga dan teman-temannya dan bersama burung-burung dan berbagai jenis binatang. Hal ini dikatakan bahwa "air terbentang menuju ke surga, lautan menutupi pantai dan sungai meluap dari dasar sungai". Dan kapal pun akhirnya berhenti di gunung Corydaean.
Menurut catatan bangsa Babilonia-Syria, Ubar Tutu atau Khasisatra diselamatkan bersama dengan keluarga dan pembantunya, umatnya dan binatang-binatang dalam sebuah kapal dengan lebar 600 cubits (ukuran panjang), tinggi dan lebarnya 60 cubit. Banjir tersebut berlangsung selama 6 hari dan 6 malam. Ketika kapal tersebut menapai gunung Nizar, merpati yang dilepaskan kembali ke kapal sedangkan burung gagak yang sama-sama dilepaskan tidak kembali.
Berdasarkan beberapa catatan bangsa Sumeria, Asyiria dan Babylonia, Ut-Napishtim bersama dengan keluarganya selamat dari banjir yang terjadi selama 6 hari dan 6 malam. Hal ini dikatakan " Pada hari ke tujuh Ut-napishtim melihat keluar. Ternyata sangatlah sepi. Orang telah berubah menjadi Lumpur". Ketika kapal berhenti di gunung Nizar, Ut-napishtim menerbangkan seekor burung merpati, seekor gagak dan seekor burung pipit. Burung gagak tinggal untuk memakan bangkai, sedangkan dua burung yang lain tidak kembali.

2)      Sinopsis Shahnameh:
Shahnameh, atau Shahnama (ejaan lain Shahnama, Shahname, Shahname, Shah-Nama), yang bermaksud "Kisah Raja-Raja", adalah sebuah syair Parsi karangan Firdausi yang bertarikh sekitar 1000 M dan ia adalah epik kebangsaan untuk negara-negara Parsi. Syair Shahnameh ini mengisahkan cerita-cerita mistik dan sejarah lama Iran sebelum kedatangan Islam. Kitab ini juga adalah salah satu warisan UNESCO. Selain memang seputar silsilah raja Persia, Ferdowsi meletakkan sentralisasi cerita terpusat pada peperangan antara Iran vs Turan (negeri di Asia Tengah) dan suksesi kekuasaan Shah.
Ferdowsi (Firdausi) atau bernama lengkap Hakim Abol Ghasem Ferdowsi Toosi (935-1020/1026 M) selama 35 tahun telah berhasil mengumpulkan sebanyak 60.000 syair pendek yang kemudian dituangkan dalam buku berjudul Shahnameh atau Shahnamah ”The Epic of Shahnameh Ferdowsi” (The Epic of Kings: Hero Tales of Ancient Persia). Shahnameh ini dipersembahkan Ferdowsi untuk kejayaan Sultan Mahmud dari Ghazna.
Cerita dimulai dari Kaiumer I sebagai Shah di Kerajaan Persia. Ia diibaratkan sebagai sang penguasa dunia, yang membangun tempat tinggal di gunung, memakai pakaian dari kulit harimau seperti begitu pula rakyatnya. Anak manusia yang dilindungi oleh Ormurzd (sebutan Tuhan) dan segala kelimpahannya, mengundang sirik dari setan (Ahriman) yang senantiasa memberi cobaan melalui putranya yang berjuluk Deev. Masa gelap pun hadir melalui Raja Zohak dari jazirah Arab yang dibantu oleh Deev. Penguasa berjuluk Raja Ular (karena memberi korban manusia setiap hari untuk dimakan ular raksasa) bisa dikalahkan oleh Feridoun yang mengasingkannya ke Gunung Demawend. Intrik di kerajaan Persia dengan raja tertinggi berjuluk Shah, mulai tersemai ketika Feridoun memiliki 3 putra yaitu Silim si sulung, Tur si anak tengah, dan Irij si bungsu.
Suatu hari Feridoun ingin menguji ketiga anaknya dengan menyuruh mereka bertarung melawan naga. Silim yang dalam pertarungan melawan naga, terbukti adalah si orang yang mencari aman dengan membalikkan badan pergi meninggalkan sang naga. Ia membiarkan adik-adiknya bertarung melawan naga. Tur yang berarti ”pemberani”, memang membuktikan nyali melawan naga. Akan tetapi, Irij tampil sebagai pria bijaksana sekaligus pemberani. Feridoun kemudian membagi wilayah kekuasaannya menjadi tiga bagian secara adil kepada putranya. Silim memperoleh Rhoum (Kaver) daerah tempat terbenamnya matahari; Turan atau Turkestan diberikan kepada Tur (sebagai penguasa Turki dan Cina); lalu Feridoun memberikan Iran kepada Irij.
Meski ketiganya menjadi raja makmur di negara masing-masing, bisikan setan berhasil menguasai Silim dan Tur. Keduanya bahu-membahu menyerang Iran dan membunuh adik bungsunya. Dari pertikaian bak kisah putra Adam-Hawa, dimana Kabil membunuh adik kandungnya sendiri, Habil, maka dinasti Iran pun tak lepas dari balas dendam, perebutan kekuasaan, dan kematian. Ada pula kisah cinta, cemburu, tipu daya, termasuk ilmu sihir. Para Shah percaya akan ramalan ahli nujum. Melihat nasib dan masa depan dari keturunan yang baru lahir. Kisah sejarah permulaan Iran kuno tak bisa lepas dengan tidak mengisahkan kepahlawanan ksatria besar Persia, Rostam atau Rustem. Pehliva (ksatria) turunan Zal putra Saum sang pahlawan dengan Rudabeh, setia membela Shah meskipun pada beberapa kasus peperangan terjadi akibat kebodohan dan ketamakan rajanya. Pada cerita penutup menjelaskan bagaimana Rustem mangkat.
Selain karena kepentingan sastranya, Shahnameh juga dianggap sebagai titik permulaan pemulihan Bahasa Parsi yang ketika itu hampir pupus kerana pengaruh Bahasa Arab. Karya agung ini juga mencerminkan sejarah Iran, nilai-nilai kebudayaan Parsi, agama-agama purbanya seperti Majusi dan juga melahirkan semangat nasionalisme di kalangan bangsa Iran atau Parsi. Kebanyakan kisah-kisah dalan Shahnameh sudah ada sebelum zaman Firdausi di dalam bentuk prosa. Selain mengisahkan epik-epik lama Parsi, Shahnameh juga menceritakan tentang kehidupan Firdausi seperti kepercayaan dan etika yang beliau anut.